MENJEMPUT IMPIAN
BEGINILAH AKU
Aku ingin seperti serius , bintang paling terang yang pernah aku lihat. Tapi karena terangnya itu ia akan menjadi bintang yang paling cepat lenyap. Aku ingin ketika saatnya aku tlah tiada nanti mereka hanya akan mengenang keindahan dan aku yang bersinar, bukan ketika aku menyusahkan dan buruk di mata mereka. Dikenang karena bermanfaat untuk mereka.
Tuhan, sudah 4 tahun aku jalani semua perjalanan hidupku disini. Susah, senang, sedih, semua bercampur dalam haru. Terekam jelas saat aku tiba di senja itu......
“nduk mbok ya sekolah disini saja, kasihan bapakmu ngurus rumah sendiri.”nenekku mulai mengiba
“ kalo sekolah disini aku pengennya tetap di SMA 1 kalo nggak SMA 2 mbah,nggak mau yang lain,TITIK!”jawabku disertai helaan nafas panjang.
“Oalah nduk mbok ya kasihan bapak kalo harus kesitu,sekolah dimana saja yang penting belajarnya.”budheku ikut bicara.
“ pokoknya kalo nggak bisa kesitu,mending aku ikut Sri sekolah di Yogya.”tantangku.
Sri adalah tetanggaku yang sekolah di kota Yogyakarta. Ia bisa sekolah karena tinggal di sebuah yayasan. Sudah Sekolahnya gratis, diberi pendidikan tambahan pula di yayasan, seperti pendidikan agama, ketrampilan menjahit, batik, sablon dan lain2. Mendengar cerita-ceritanya setiap kali pulang kampung membuatku bermimpi dapat sekolah juga di kota yogyakarta itu. Selain itu karena aku juga berpikir hal ini akan meringankan pengeluaran bapak dalam biaya sekolah.
Bapakku hanya seorang petani kecil dan pengayuh becak, ibuku sudah meninggal semenjak aku TK. Aku dan adekku dibesarkan dengan didikan seorang ayah yang hanya lulusan SD. Ayahku tidak menikah lagi karena aku. Aku selalu menyebut pernikahan lagi hanyalah sebuah penghianatan untuk ibuku yang sudah meninggal. Aku selalu mengancamnya kalau ibu tiri itu kejam, aku berjanji akan membuatnya tidak betah dirumah. Terlalu sadis ternyata setelah aku ingat hal itu saat ini. Ya begitulah aku saat itu, tumbuh menjadi anak yang begitu keras kepala.
Bapakku hanya diam saja menyimak semua obrolan kami sambil sesekali mengipasi adekku yang baru saja disunat. Namun beberapa saat kemudian bapakku akhirnya angkat bicara juga, “ bapak bisanya nyekolahke yo neng swasta kaya Endang kae Nduk. Nek arep sek luweh dhuwur Bapak ora wani ragade. Yen arep neng Jogya ya bapak pareng pangestu, tapi dipikir mateng- mateng ndisik.”
Tidak menunggu lama, pagi harinya aku berkemas-kemas untuk ke Yogyakarta. Nanti sore aku ke Yogya,hemh nggak sabar pengen menikmati sesuatu yang beda.batinku sambil membayangkan yayasan seperti apa yang bakal aku masuki ini.
Setelah berkemas aku menyempatkan waktu bercengkrama dengan bapak dan adikku sambil membakar jadah sisa acara syukuran sunatan adekku kemaren. Aku membulatkan tekadku untuk merantau supaya bapak bener-bener percaya bahwasanya aku mau dan bisa. Adekku yang biasa nakal kini hanya terdiam mendengarkan penuturanku.
“ nek sinau seng bener Nduk, nek uwes mantep sekolah neng Yogya aja terlalu mikir omah. Bapak mung isa nyanggoni donga pangestu.” Tak terkira air mataku mengalir, terharu karena bapakku bener bener mau melepaskannku. Siapa yang akan menemani adekku ketika bapak masih kerja, siapa yang akan memasak kalo bapak pulang sore, siapa yang akan mengajari adekku belajar, siapa yang akan menyetrika baju seragam dan lain-lain? tiba-tiba sekelebat pertanyaanmengganggu tekadku.
“ nek uwes mantep ora usah mikir ngomah Nduk, InsyaAllah Bapak mampu.” Bapak menenangkanku seakan tahu apa yang ada dipikirku.
###@@###
Akhirnya Berangkat Juga
Sore itu juga, selepas sholat ashar aku dan bapak menuju balai desa dimana rombongan yang akan berangkat ke jogya berkumpul. Bapak bergabung dengan orang tua rombongan yang lain. Di sana kulihat dua anak perempuan yang ternyata teman sekelasku di waktu SD, Fatimah dan Retno. Menyusul kemudian seorang anak dengan perawakan yang kecil namun cantik. Akupun mengenalinya juga,tepatnya adek kelasku di SD. Namanya Lisa. Aku memperhatikan mereka satu persatu dan tersenyum ramah. Setelah berbasa-basi dengan mereka aku menyendiri di ayunan Tk permata hijau samping balai desa itu. Bayang-bayang kesulitan yang akan dilalui bapakku mulai menggodaku lagi. Aku tidak bisa membendung air mata yang mulai mengintip di pelupuk mataku, tangisku pecah. Dan berawal dari sinilah persahabatan itu dimulai.
Kami berangkat tepat pukul 16.00 WIB, menggunakan mobil carteran biru tua yang mulai sedikit terkelupas catnya. Beraneka pikiran mulai berkembang di benak kami. Bayangan bangunan yang aku impikan, teman-teman dan tentu saja kehidupannya nyaris tergamabar jelkas bak sinetron Candy yang ketika itu begitu menjadi tontonan favoritku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar